Exxonmobil Klaim Bantuan Kredit Mikro Tepat Sasaran

JAKNEWS, ExxonMobil mengklaim bantuan kredit mikro yang disalurkan kepada masyarakat kecil di sekitar wilayah operasi perusahaan minyak dan gas berskala internasional itu di Indonesia tepat sasaran.

“Sekitar 99,9 persen dana yang kami salurkan itu bisa kembali. Yang tidak kembali itu biasanya karena peminjam sakit atau suaminya meninggal dunia,” kata Operations Manager Public and Government Affair ExxonMobil Katri Krisnati di Jakarta, Senin.

Katri Krisnati menyebutkan perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat itu telah menyalurkan sana sekitar Rp100 miliar untuk membantu lebih dari 36.000 perempuan di Aceh Utara, Majene, Donggala, Bojonegoro, Blora, dan Tuban.

Selain bantuan berupa pinjaman lunak, ExxonMobil juga membantu memberdayakan kaum perempuan melalui program “Global Women in Management” (GWIM) yang digagas sejak 2005.

Dengan merangkul Plan International USA, GWIM memberikan pelatihan kepada perempuan tentang kepemimpinan dan keahlian manajemen kepada kaum perempuan.

“Kenapa perempuan? Karena dalam penelitian kami, kaum perempuan lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat umum,” ujarnya.

Klaim mengenai ketepatan sasaran penerima dan pengembalian pinjaman bergulir itu, Katri menjelaskan bahwa kontrol sosial perempuan lebih bagus.

“Misalnya satu kelompok yang terdiri atas lima orang mendapatkan kucuran dana. Dua orang meminjam dana itu, tiga orang lainnya turut membantu agar dana pinjaman bisa dikembalikan sehingga yang lain kebagian,” ujarnya memcontohkan dana pinjaman yang disalurkan kepada perempuan di sekitar lokasi eksploitasi Blok Cepu.

Sementara itu, Senior Director for Leadership and Capacity Development of Plan International USA, Sue Richiedae mengatakan bahwa pihaknya hanya mengembangkan individu perempuan menjadi pemimpin bagi komunitasnya.

Untuk memberdayakan kaum perempuan di 90 negara, ExxonMobil telah mengucurkan dana senilai 100 juta dolar AS.

Lokakarya kepemimpinan bagi perempuan yang digelar melalui program GWIM di Jakarta pada 18 April-13 Mei 2016 diikuti 26 perempuan dari Indonesia, Papua Nugini, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Selandia Baru.

“Kami dilatih manajemen program keuangan, kepemimpinan, penggalangan dana, komunikasi strategis, pengawasan, dan advokasi,” kata Imas Sidiq, peserta program tersebut dari Indonesia.

Styaningrum
By Styaningrum May 9, 2016 17:25