Keluarga Meyakini Dokter Indra Hanyalah Korban

JAKNEWS, Keluarga tersangka kasus praktik peredaran vaksin palsu, dr Indra Sugiarno, Sp.A menegaskan bahwa dokter tersebut hanyalah korban.

"Dia (dr Indra) jelas sebagai korban dari produsen dan distributor vaksin palsu ini," kata kakak kandung dr Indra, Damayanti di Gedung Bareskrim, Jakarta, Senin.

Ia meyakini adiknya tersebut tidak mengetahui vaksin yang digunakannya palsu. Hal ini karena ada anggota keluarganya yang turut menjadi korban atas vaksinasi Indra.

"Bagaimana mungkin seorang kakek tega menyuntikkan racun kepada cucunya, darah dagingnya sendiri. Dia sangat sayang pada anak-anaknya, apalagi dia sebagai dokter spesialis anak," ucapnya.

Menurutnya, cucunya tersebut tidak mengalami gejala sakit apapun setelah mendapatkan suntikan vaksin palsu.

Meski menghadapi hujatan dari masyarakat atas kasus yang dihadapi adiknya, perempuan yang disapa Uwa Yanti ini menyerahkannya pada proses hukum dan meminta masyarakat untuk mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

Sementara kuasa hukum dr Indra, Fahmi M. Rajab mengatakan kliennya tidak mengetahui bahwa vaksin yang digunakannya itu palsu.

Menurut Fahmi, Indra mendapatkan vaksin palsu dari seorang 'sales' berinisial S. Saat itu, kata Fahmi, terjadi kekosongan vaksin di rumah sakit yang membuat Indra harus mencari pasokan vaksin dari luar karena banyaknya pasien yang memerlukan vaksin.

"Pada Januari (2016) ada kekosongan vaksin. Beberapa pasien mencari vaksin ke dr Indra. Akhirnya dr Indra mencari sales dari perusahaan yang biasa menyuplai obat. Masalahnya, obat itu bukan dari perusahaan tersebut, tapi dari sales pribadi yang menawarkan," papar Fahmi.

Indra, kata Fahmi, juga sempat mempertanyakan keaslian vaksin pada sales tersebut. "Ditanya juga sama dr Indra, asli enggak? Asli katanya," ujar dia.

Menurut Fahmi, S merupakan sales perusahaan yang biasa memasok obat ke Rumah Sakit Harapan Bunda.

Indra merupakan salah satu dokter dari tiga dokter yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus vaksin palsu. Indra diketahui berprofesi sebagai dokter spesialis anak di Rumah Sakit Harapan Bunda, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sementara sejauh ini penyidik Bareskrim telah menetapkan 23 tersangka dalam kasus tersebut. Kendati demikian hanya 20 orang yang ditahan di Rutan Bareskrim. Sementara tiga orang lainnya tidak ditahan karena masih berusia dibawah umur dan memiliki anak kecil yang perlu dirawat.

"Tiga orang tidak ditahan karena alasan kemanusiaan. Dia bukan pemeran utama, punya anak kecil yang perlu dirawat," tutur Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya.

Meski ada yang tidak ditahan, namun proses penyidikan seluruh tersangka tetap berlanjut. Agung mengatakan pemberkasan kasus para tersangka dibuat empat berkas terpisah. "Ini untuk mempercepat pemberkasan dan memudahkan proses persidangan," katanya.

Agung merinci dari 23 orang tersangka kasus vaksin, memiliki peran masing-masing yakni produsen (enam tersangka), distributor (sembilan tersangka), pengumpul botol (dua tersangka), pencetak label (satu tersangka), bidan (dua tersangka) dan dokter (tiga tersangka).

Atas perbuatannya, seluruh tersangka dijerat dengan UU Kesehatan, UU Perlindungan Konsumen dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara.

Styaningrum
By Styaningrum July 18, 2016 14:23 Updated