Menabung atau Investasi

JAKNEWS | Kendati sudah bekerja keras, pertambahan penghasilan tidak secepat tuntutan kebutuhan. Ibaratnya, pertambahan penghasilan bagaikan pertumbuhan jumlah jalan, lambat banget. Sementara tuntutan kebutuhan seperti pertumbuhan jumlah mobil, wusss… Apa akibatnya? Ya, seperti pemandangan jalanan Jakarta: macet total. Hidup kita sulit bergerak karena keterbatasan finansial. Maka, kita harus move on!

Untuk mengakali keterbatasan penghasilan, sebagian dari kita melakukan aktivitas menabung, dengan harapan bunga dari perbankan bisa menambah penghasilan. Kita harus mulai menyisihkan sebagian penghasilan dengan menunda konsumsi yang tidak perlu dan menyimpan untuk kebutuhan yang bersifat jangka pendek.

Menabung dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan celengan yang terbuat dari tanah liat, seperti zaman kuda gigit dodol. Tapi, kini mayoritas kita menabung di produk perbankan, seperti tabungan dan deposito. Menabung adalah salah satu cara mengakumulasi uang sedikit demi sedikit, dengan harapan akan terkumpul menjadi suatu jumlah yang lebih banyak dan manfaat yang lebih luas.

Apakah cukup hanya dengan menabung untuk memenuhi kebutuhan kita? Yoi, kalau sekadar memenuhi kebutuhan jangka pendek. Seperti liburan ke luar negeri atau sekadar membayar berbagai tagihan.

Tapi mampukah menabung menutupi kebutuhan jangka menengah atau malah jangka panjang yang jauh lebih futuristik? Misalnya, melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan S-2 atau S-3, menikah, pendidikan anak kita nanti atau pergi ke tanah suci? Astaga, ternyata hasil menabung di bank tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan jangka panjang yang sudah kita rencanakan.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bukankah kita sudah berhemat dan rajin bertemu teller nan cantik dan ramah, speak-speak dikit, lalu menitip uang di bank agar diputar dan mendapatkan bunga? Intip punya intip, ternyata ada tuyul yang menyebabkan nilai uang kita di bank bukan bertambah, melainkan menjadi berkurang. Tentu saja, ini bukan tuyul yang kepalanya gundul laiknya Casper. Tuyul yang dimaksud adalah inflasi.

Tanpa kita sadari, si tuyul ini menyelinap, berjinjit dan menggondol uang kita habis-habisan. Inflasi juga tidak pandang bulu. Orang miskin, setengah kaya, orang kaya baru, orang yang sudah bosan kaya maupun tajir banget, tak bisa menghindar saat inflasi datang. Akibat inflasi, nilai semua jenis aset mereka menyusut tanpa ampun.

Kalau mencontek buku-buku ekonomi, definisi inflasi adalah kenaikan harga-harga yang terus menerus akibat mekanisme pasar. Bagaimana cara kerja si inflasi sehingga bisa menggerogoti kekayaan kita? Ilustrasinya begini, berdasarkan Pusat Informasi Pasar Uang Bank Indonesia (BI), rata-rata bunga deposito perbankan Indonesia di tahun 2014 sekitar 6,96% setahun. Setelah dipotong pajak bunga deposito 20%, deposan cuma menerima bunga bersih 5,56% per tahun.

Sementara menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di tahun 2014 nongkrong di angka 8,36%. Artinya, jika kita menabung di deposito, nilai uang kita secara riil justru menyusut 2,8%. Dengan kata lain, di tahun 2014 kita bertambah miskin 2,8%.

Lalu bagaimana dong cara cespleng mengusir si tuyul berkedok inflasi? Tentu bukan dengan membakar kemenyan, komat-kamit merapalkan berbagai bacaan dan mantra atau menyajikan sesajen. Sudah saatnya kita kerja lebih cerdas, tanpa harus bercucuran keringat. Ada cara jitu untuk menaklukan inflasi, yakni investasi.

Styaningrum
By Styaningrum January 23, 2016 11:31 Updated