Pound Dan Pasar Saham Global Terpuruk Karena Brexit

JAKNEWS, Pilihan mengejutkan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa mengirim gelombang guncangan ke seluruh pasar global pada Jumat, karena mengirim elemen baru ketidakpastian di dunia yang sudah terganggu oleh pertumbuhan lemah.

Sterling jatuh 10 persen ke level terendah 31 tahun pada satu titik dan euro juga anjlok terhadap dolar, karena pedagang telah berbelok dalam persiapan untuk pemungutan suara pada Inggris memilih untuk tetap di Uni Eropa berdasarkan jajak pendapat dan prediksi para petaruh.

Indeks acuan FTSE 100 di London indeks anjlok 7,5 persen pada pembukaan, tapi mulai pulih setelah Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan ia akan mundur dan bank-bank sentral berjanji akan menyediakan likuiditas cukup untuk pasar-pasar yang bergejolak.

Pengumuman itu membendung kerugian lebih lanjut di pasar utama Eropa, dengan indeks utama FTSE 100 di London ditutup turun hanya 3,2 persen.

Tetapi di zona euro mengalami kerugian besar yang belum pernah terlihat sejak hari-hari gelap krisis ekonomi global.

Indeks DAX 30, indikator utama bursa saham Frankfurt terpukul hingga jatuh 6,2 persen pukulan, sementara indeks CAC 40 di Paris merosot 8,0 persen.

"Dukungan likuiditas yang dijanjikan oleh bank sentral Inggris, Bank of England (BoE) -- dan kemudian ECB dan Federal Reserve - tampaknya telah menjadi katalis utama untuk merubah haluan," kata analis Spreadex, Connor Campbell.

Tapi bursa saham Milan merosot 12,5 persen dan Madrid anjlok 12,4 persen karena kegelisahan menjelang pemilu Spanyol pada Minggu.

"Sementara FTSE naik seperti mukzijat dari reruntuhan penurunan sebelumnya, indeks zona euro tidak cukup beruntung ... menyebabkan para investor mungkin tidak hanya khawatir dengan Brexit, tetapi juga dengan pemilu Spanyol akhir pekan ini," tambah Campbell.

Saham-saham AS turun sekitar tiga persen di akhir perdagangan pagi.

Ekonom UniCredit Research Daniel Vernazza mengatakan pemilih Inggris telah mengabaikan peringatan oleh "mayoritas opini para pakar ekonomi".

Pasar salah langkah "Tidak mengherankan, hasil referendum pagi ini telah mengirimkan gelombang guncangan ke seluruh pasar keuangan global," katanya dalam sebuah catatan kepada klien.

"Ini menakutkan, dan saya belum pernah melihat yang seperti itu," James Butterfill, kepala penelitian dan investasi di ETF Securities, mengatakan di London. "Banyak orang terperangkap, dan banyak investor akan kehilangan banyak uang," katanya kepada Bloomberg News.

Setelah menguat di atas 1,50 dolar pada waktu pemungutan suara berakhir, pound terus jatuh ke level terendah sejak 1985, di 1,3229 dolar pada satu titik, sebelum melepaskan kembali beberapa kerugiannya.

Dolar sempat merosot ke 99,02 yen, pertama kalinya di bawah 100 yen sejak November 2013, sebelum merayap kembali di atas 102 yen. Unit Jepang dianggap sebagai taruhan yang aman di masa ketidakpastian dan kekacauan (safe haven).

Menyoroti ketidakpastian, bank investasi AS JPMorgan Chase memperingatkan bahwa hal itu bisa memindahkan lapangan pekerjaan Inggris ke luar negeri.

Bank-bank menerima beberapa pukulan terbesar. Di Inggris, Lloyds anjlok 21 persen, RBS menukik 18,8 persen dan Barclays jatuh 17,7 persen.

Di Prancis, saham Societe Generale terjun 20 persen dan BNP Paribas merosot sebesar 17,4 persen, sedangkan di Jerman, Deutsche Bank anjlok 14,1 persen dan Commerzbank terperosok 13,0 persen.

Di Spanyol, Santander tenggelam 20 persen dan di Italia UniCredit jatuh hampir 24 persen.

Para investor juga memburu obligasi pemerintah yang relatif aman. Harga pada obligasi negara 10-tahun Jerman naik tajam, mendorong imbal hasil (yield)-nya ke wilayah negatif untuk kedua kalinya dalam sejarah.

Obligasi pemerintah Inggris juga naik, mengambil imbal hasil obligasi 10-tahun mereka ke terendah dalam sejarah.

Emas, aset perlindungan tradisional, mencapai tertinggi dua tahun.

Tapi di tempat lain, miliaran dolar terhapus dari portofolio investasi.

Rupee India, dolar Kanada dan dolar Singapura semua mengalami kerugian besar, sementara rand Afrika Selatan kehilangan enam persen pada hari ketika "emerging markets" dirugikan oleh penghindaran risiko secara mendadak.

Hasil referendum mengejutkan juga mengirim harga minyak jatuh lebih dari dua dolar AS per barel di tengah kekhawatiran bahwa kejatuhan ekonomi bisa membebani permintaan energi di masa depan.

Styaningrum
By Styaningrum June 25, 2016 07:51